Membenci atau melupakan? #1

Aku membenci diriku, setiap kali kegelisahan datang mengurungku pada masa terpenjara, apa yang harus ku lakukan? Membenci atau melupakan seseorang yang pernah ku kagumi atau yang pernah kusukai. Ataukah aku harus membuang wajah ini jauh-jauh dari hadapannya. Agar kekecewaan ini hanyut bersama pandangannya. Ataukah aku harus membutakan mataku untuk melihat segalanya? biar bayang-bayangnya tak tertinggal jejak barang sekalipun dalam pikiranku. Ataukah aku harus memotong telingaku? agar tidak mendengar suara-suara yang paling kubenci. ataukah aku harus pergi jauh yang dimanapun aku tak pernah melihat bayang-bayangnya. Apakah aku harus melakukan semua itu? aku tak mengerti, mengapa? Mengapa harus sesakit ini. Satu diantaranya segalanya atau satu yang menghancurkan segalanya? Pikiran ini lucu, apapun bisa diperbuatnya dengan mudah, tetapi apa yang terjadi nanti, siapa yang mengetahuinya dengan jelas? siapa yang tersakiti? dan siapa yang menyakiti? Bohong, munafik, brengsek. Apa itu pantas kusebut dengan keras?

Hidup ini bukan cuma memikirkan hal yang dibenci saja, bukan? Tetapi kenapa karenanya aku selalu saja menangisi tanpa arah yang jelas, dimana, apa dan bagaimana. Mengapa harus terjadi padaku? Sulit aku memahami diriku hingga kini. Siapa yang mau mengerti? Orang gila ucapnya. Tidak. Mungkin aku saja yang mengatakannya. Aku ingin membencinya untuk selamanya. Kalau dia tidak menyesali apa yang dia goreskan pada lembar-lembar kertasku. Sampai-sampai aku sulit membacanya dengan jelas. Apa sebenarnya isi buku tersebut? Mengapa terkadang tak bisa kupahami jika kubaca dari awal hingga akhir. Tetapi, itu belum berakhir, bahkan baru saja dimulai. Baru saja dimulai perasaan seseorang yang mencintai orang lain. Apa untuk kesetiaan ataukah untuk ambisi? itu aku atau kamu? atau bahkan dia? Dia yang ku kagumi pergi jauh dari mataku dan meninggalkan secarik kertas usang yang telah berusia hampir dua tahun lamanya. ataukah kamu yang ingin menghancurkan perasaanku dan membuatku membencimu. Acuhkan aku sebisamu. Hancurkan aku sebisamu. Tangisan ini bukan hanya untukmu, melain air mata yang terus mengalir bahkan ketika aku tidak menangis sekalipun.

Baiklah, kita coba kembali seperti sebelumnya. kita coba untuk saling membenci.

 

Iklan

Bukan maksudku sombong

Pagi hari yang cerah di sekolah. Tampaklah para murid yang sedang berlalu lalang dihalaman sekolah. Hendak memasuki ruangan kelas masing – masing. Sedangkan aku sendiri juga sedang memarkirkan kendaraan di halaman parkir sekolah. Ketika berjalan menuju kelas, aku merasa berpapasan dengan seseorang yang ku kenal. Entahlah siapa orangnya, namun aku merasa mengenalinya. Tapi, sudahlah aku bergegas masuk ke kelas karena takut terlambat.

Tiba aku dikelas, ternyata teman – teman sedang sibuk mengerjakan pr. “Oh, ya ampun. Aku lupa buat pr, mana nggak bawa buku Lksnya lagi. Gimana ini? Nggak mungkinkan aku balik lagi kerumah, jauh coba!” kata ku. “ Udah nggak usah dipikirin deh. Kitakan mau presentasi kelompok masing – masing. Tinggal bilang aja nggak ada pr.” Jawab Sisil. “ Kring – kring, . . .kring – kring. . .” Bel penunjuk masuk sudah berbunyi. Guru pun sudah hadir di depan pintu kelas kami. Ketua kelas menyiapkan anggotanya untuk berdoa dan mengucapkan salam kepada Guru.

“Eh, Sil. Tadi tuh aku kayak kenal dengan seseorang yang berpapasan denganku nggak sengaja.” Kataku sambil membuka pembicaraan. “Emang siapa dia? “ Tanya Sisil ”Entahlah Sil. Kayaknya aku tuh kenal dengan dia, tapi dimana ya? Apa mungkin dia teman aku dulu ya?“ “ Loh kok tanya aku. Ya manalah aku tau Din.” Cetus Sisil lanjutnya, “ dia cowok atau cewek?” Tanya Sisil. “Ya sorry lh Sil. Dia tuh cowok.” Jawab Dina. “Oh jangan – jangan ada sesuatu ya? Ayo!” ledek Sisil. “ Ih mana ada ya. Ngarang aja deh, kamu.” Jawabku bimbang. “ Ya kan aku nggak tau, Din. Nggak usah gitu kali lah.” Cetus Sisil.

“Eh, eh. Itu dia orangnya yang aku ceritain barusan” sambil melihat kearah pintu luar kelas. “ Oh, jadi itu orangnya. Cakep yah.” Ledek Sisil. “Ih nggak usah gitu kali ya, emang kamu kenal apa?” “ Nggak sih, he he. . “ jawab Sisil tersenyum.” Siapa tuh namanya? ” Tanya Sisil. “ Oh, iya. Dia itu teman kelas SD aku dulu, Ya ampun, aku baru ingat. Namanya Fito.“ “ Oh namanya Fito, toh.” Jawab Sisil. “Udah deh, nggak usah ngeledek” cetusku.

Tibalah waktu istirahat, nggak sengaja lagi ketemu dia. Dan dia lewat depan kelasku untuk ke kantin. “ Din, itu orangnya. Tegurlah.” “ Nggak ah ” jawab Dina. Tapi malah si Sisil menegur Fito, kayak sok kenal aja. “ Eh lo sombong ya sama kawan sendiri.” lanjutnya, “Ih, itu orang sombong kali sih, nggak nyahut omongan aku.” “Ya, iyalah, nggak nyahut. Dia kan nggak kenal kamu tau nggak. Kepedean kali sih”Jawab Dina. “ eh, lah. Biarin dong, daripada kamu, sombong nggak mau nyahut. Entar kalo dia bisa ku taklukin, baru tau kamu.”  “ Apalah, dia temen aku tau” jawab Dina dengan nada kesal. Tiba – tiba bel masuk berbunyi” kring – kring. “ Udah lah, masuk kelas” jawab Sisil mengakhiri pembicaraan dengan menahan kesal.

“Aku nggak tahu, apa yang harus ku lakukan untuk membuat dia mengenaliku kembali. Rasanya kami sudah berpisah lama, dan aku mengangap dia sebagai teman terbaik aku sendiri di sekolah. Kenapa dia nggak merasa mengenaliku? Apa mungkin dia lupa denganku? Ataukah dia juga ingat aku? Aku juga nggak bermaksud sombong dengan dia, cuman aku merasa nggak punya harga diri, kalo aku harus menegur dia duluan. Sedangkan aku tuh cewek.” Ungkap Dina pada Sisil. “Sudahlah, nggak usah diambil pusing. Kalo dia emang teman terbaik kamu sewaktu kecil. Aku yakin dia pasti masih ingat dirimu.” Ya sih, Sil. Tapi sekarang ini aku merasa seperti orang yang nggak dikenal waktu nggak sengaja liat dia. ” “Mungkin dia sebenarnya ingin menegur dirimu tapi, dia takut dirimu tidak mengenalinya juga? “ jawab Sisil menenangkan hati Dina. “Iyalah, mungkin Sil. Makasih Sil kamu emang teman terbaikku, meski nyebelin, he he. . “ Kataku sambil tersenyum.