Untuk Apa Kita Sekolah….???

Ada seorang ibu berkata pada anaknya, “Nak, kalau kamu sudah besar nanti kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS) biar hidupmu tidak susah, jangan meniru bapakmu yang supir angkutan itu, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang liat tetangga kita itu sekolahannya tinggi coba lihat hidupnya enak kamu harus mencontoh dia”. Sementara itu dilain pihak ada seorang ibu yang berkata, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi presiden sudah ada, dokter, tentara, polisi, insinyur, semuanya sudah ada, mendingan uang sekolahmu dibelikan domba saja untuk diternak dan dijual nantinya. Coba lihat si Edo, sekolah jauh-jauh sampai sarjana pas lulus nganggur dan jadi pedagang kaki lima…!”

Sadar atau tidak ternyata opini yang terbangun di masyarakat mengenai dunia pendidikan (sekolah) adalah seperti yang di atas. Masyarakat menilai bahwa salah satu alat ukur keberhasilan seseorang bersekolah adalah sejauh mana dia mampu membawa dirinya pada status sosial yang tinggi dimasyarakat. Indikasinya apakah seseorang itu bekerja dengan penampilan elegan atau tidak. Dan apakah seseorang itu bisa kaya dengan pekerjaannya atau tidak. Bila ada seseorang yang telah menempuh jenjang studi (SD, SMP, SMA, S1, S2, S3) tapi setelah itu dia menganggur atau berpenghasilan pas-pasan maka ia akan disebut telah gagal bersekolah. Hal semacam inilah yang ditemui di masyarakat kita.

Mencermati hal diatas, apakah memang praktek-praktek pendidikan yang selama ini dijalani ada kesalahan proses? Mengapa dunia pendidikan belum bisa memberikan pengaruh pencerahan ditingkatan masyarakat, lantas apa yang selama ini dilakukannya oleh dunia pendidikan kita? Kalaupun yang diopinikan oleh masyarakat adalah kesalahan berpikir, lantas mengapa kualitas pendidikan kita tak lebih baik dari lebih baik dari negara lainnya, bukankah setiap hari upaya perbaikan pendidikan terus dilakukan mulai dari seminar sampai dengan pembuatan undang-undang sistem pendidikan nasional? Atau inilah yang dimaksud oleh Ivan Ilich bahwa “SEKOLAH itu lebih berbahaya daripada nuklir. Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah.” (ho…ho… ternyata bukan cuma agama yang candu)

Jelasnya pendidikan (sekolah) bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan manusia-manusia penghuni pabrik, berpenampilan elegan apalagi hanya sebatas regenerasi pegawai negeri sipil (PNS), tapi lebih dari itu adalah pendidikan merupakan upaya bagaimana memanusiakan manusia. Kalau dunia pendidikan hanya diposisikan sebagai pelengkap dunia industri maka bisa jadi manusia-manusia Indonesia kedepan adalah manusia yang kapitalistik, coba perhatikan menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru dipinggir jalan sering kita temukan mulai dari spanduk, baliho, liflet, brosur, pamlet dan stiker yang bertuliskan slogan yang kapitalistik seperti ” lulus dijamin langsung kerja, kalau tidak uang kembali 100%, adapula yang bertuliskan “sekolah hanya untuk bekerja, disini tempatnya” apalagi banyaknya sekolah-sekolah yang bergaya industri semakin memperparah citra dunia pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pada pengakumulasian modal daripada pemenuhan kualitas pelayanan akademik yang diberikan.

Beberapa hal diatas setidaknya menjadi renungan bagi dunia pendidikan kita bahwa pendidikan bukanlah sesederhana dengan hanya mengupulkan orang lantas diceramahi setelah itu pulang kerumah mengerjakan tugas besoknya kesekolah lagi sampai kelulusan dicapainya (sekolah berbasis jalan tol), kalau aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini maka pilihan untuk bersekolah merupakan pilihan yang sangat merugikan akan tetapi kalau proses yang dijalankannya tidak seperti sekolah jalan tol maka pilihan untuk beinvestasi di dunia pendidikan dengan jalan menyekolahkan anak-anak kita merupakan pilihan yang sangat cerdas.

Oleh sebab itu sudah saatnya dunia pendidikan kita mereformasi diri secara serius khusunya bagaimana pembelajaran di sekolah itu bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran kritis sehingga melalui kekuatan kesadaran kritis bisa menganalisis, mengaitkan bahkan menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan persoalan system bukan karena persoalan jenjang sekolah. Inilah yang seharusnya menjadi muatan penting untuk diinternalisasikan disetiap diri siswa.

sumber: http://suarapelajarindonesia.wordpress.com

 

One thought on “Untuk Apa Kita Sekolah….???

  1. kita sekolah untuk masa depan.
    tapi belajar bukan hanya di dapat dari sekolah saja, contohnya saja dari keluarga. kita udah terbiasa belajar dalam lingkungan keluarga. karena tanpa kita sadari kita telah belajar dalam keluarga tersebut. dan belajar itu bukan dari buku melainkan dari tindakan – tindakan yang positif.
    .

    terimakasih atas komentar anda,,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s